
Bisa jadi banyak yang belum akrab dengan bumbu rempah yang satu ini.
Namanya mesoyi. Kadang ditulis juga masoyi atau masoi. Jenis rempah yang satu ini tergolong cukup langka dan memang tidak terlalu sering digunakan pada ragam masakan Nusantara.
Namun rempah yang sering disebut sebagai “kembarannya” kayu manis ini memiliki rasa dan aroma yang sangat khas, sekaligus mampu menyumbangkan warna merah alami nan menggoda pada masakan.
BACA JUGA: Sajian Makin Menggoda Berbumbu Kayumanis, Begini Cara Simpannya Agar Awet Harum!
Karakter dan Ciri Utama Mesoyi
Mesoyi, masoyi, atau masoi (Cryptocarya massoia) merupakan rempah asli Indonesia. Ia tumbuh sebagai pohon yang banyak terdapat di kawasan Indonesia Timur, terutama Maluku dan Papua.
Oleh warga lokal Papua, pohon ini disebut aikor atau aikori. Pohonnya dapat tumbuh sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 25 meter.
Kulit kayu pohon ini menebarkan aroma wangi karena mengandung minyak atsiri sehingga kerap disebut sebagai kulit kayu aromatik.
Karena itu, bagian kulit kayunyalah yang digunakan sebagai bumbu rempah yang memiliki rasa dan aroma yang sangat unik.
Ciri utama mesoyi yang digunakan sebagai bumbu rempah atau campuran herbal biasanya sudah berupa kulit kayu yang dikeringkan dan digulung atau dipotong kecil-kecil.
Warna kulit kayunya cokelat muda sampai cokelat tua dan agak keabu-abuan, dengan tekstur agak kasar dan berserat.
Sekilas memang mirip kayu manis (Cinnamomum), tetapi jenis pohon dan aroma dari keduanya jelas berbeda.
Aroma mesoyi cukup spesifik, menguarkan nuansa hangat, pedas, manis yang tipis, dan wangi kayu yang cukup kuat.
Jika dibayangkan, aroma kulit kayu mesoyi sering digambarkan sebagai gabungan antara aroma tipis kayu manis, cengkih, dan sedikit lada, tetapi dengan identitas aroma khasnya sendiri.
Dengan karakter aroma yang demikian, ketika digunakan sebagai bumbu masakan atau campuran minuman tradisional, rasanya memberi efek hangat di tubuh.
Kegunaan dan Fungsi Mesoyi
Kulit kayu mesoyi tak jarang juga digunakan sebagai campuran pewarna merah alami. Selain digunakan sebagai bumbu pada masakan, mesoyi juga kerap digunakan sebagai campuran jamu pasca persalinan atau ratus wangi.
Pada masakan, penggunaan mesoyi tidak perlu terlalu banyak. Cukup 2-3 cm saja untuk menghadirkan aroma sekaligus warna kemerahan pada masakan.
Di Indonesia, mesoyi kerap digunakan sebagai bumbu masakan berkuah berbahan daging dan campuran pada minuman tradisional.
Misalnya, malbi khas Palembang yang menggunakan bahan utama daging, ragam soto berkuah santan, sup ikan kuning khas Maluku dan Papua, tongseng, hingga minuman hangat wedang atau bandrek.
Manfaat Tradisional Mesoyi
Secara tradisional, mesoyi juga dipercaya dapat memberikan khasiat bagi kesehatan tubuh. Di antaranya:
- Membantu menghangatkan badan.
- Membantu meredakan masuk angin.
- Dapat digunakan sebagai campuran ramuan herbal atau minuman tradisional hangat.
Cara Simpan Mesoyi
Mesoyi yang digunakan sebagai bumbu rempah, baik jamu maupun masakan, adalah bagian kulitnya yang dikeringkan sehingga awet disimpan lama.
Sama seperti menyimpan kayu manis, mesoyi sebaiknya diikat atau dikelompokkan ke dalam satu ikatan lalu disimpan di dalam wadah kering dan kedap udara untuk menghindari tumbuhnya jamur.
Cukup simpan di dapur atau di tempat kering dan bersuhu ruang saja, tidak perlu dimasukkan ke dalam kulkas.
Nah, setelah makin mengenal bumbu dapur mesoyi, penasaram resep khas Nusantara apa saja yang bisa dibumbui masoyi?
Nantikan artikel resep dari Telusur Dapur selanjutnya!
