Klappertaart: Dari Dapur Kolonial ke Meja Natal


Sebagai kue khas Manado, klappertaart merepresentasikan sejarah kolonialisme, eksistensi gereja dan kekristenan, kekayaan sumberdaya dan adaptasi lokal, serta kebanggaan komunitas. | Foto: Dok. Telusur Dapur

Di banyak rumah di Manado, Natal sering kali diumumkan bukan pertama-tama oleh lonceng gereja, melainkan oleh aroma yang meruap dari dapur.

Di antara bau daging, rempah, dan masakan pesta lainnya, ada pula satu aroma yang terasa manis, lembut, dan khas. Inilah aroma klappertaart.

Bagi banyak orang, aroma ini segera memanggil ingatan akan Natal.

BACA JUGA: Kastengel, dari Budaya Priyayi Era Kolonial hingga Jadi Hidangan Lebaran

Dari namanya saja, klappertaart sudah membawa jejak sejarah yang jauh. Kata “klapper” adalah sebutan lama dalam bahasa Belanda untuk kelapa, sementara “taart” berarti kue.

Nama ini secara jujur mengakui asal-usulnya: sebuah kue bergaya Eropa yang lahir dan tumbuh di tanah tropis, dengan kelapa sebagai bahan utamanya.

Klappertaart bukan kue Belanda murni, tetapi juga bukan kue tradisional Minahasa yang lahir dari dapur leluhur. Kue ini adalah anak sah dari perjumpaan lokal dan kolonial.

Bahwa klappertaart lahir di Manado bukanlah kebetulan. Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai tanah kelapa, dengan pohon-pohon kelapa yang tumbuh subur di pesisir dan kebun rakyat.

Dalam konteks kolonial, kelapa menjadi bahan tropis yang murah dan mudah diperoleh, menggantikan buah-buahan Eropa yang mahal dan langka.

Maka, ketika dapur kolonial ingin menghadirkan kue ala Barat dengan memanfaatkan bahan lokal, kelapa adalah jawaban paling masuk akal.

Sebagai makanan, klappertaart terbuat dari campuran kelapa muda, susu, telur, mentega, dan tepung. Selain kelapa, semua komponen yang disebutkan itu bukanlah bahan dapur yang murah pada era kolonial.

Bahan-bahan itu dipanggang perlahan, menghasilkan tekstur lembut di bagian dalam dan sedikit kecokelatan di permukaan. Rasanya manis, tetapi tidak mencolok. Kaya, tetapi tidak berlebihan.

Dalam banyak hal, klappertaart adalah representasi dari selera Eropa yang telah berdamai dengan iklim dan bahan-bahan tropis.

Dari Makanan Netral Menjadi Sajian Perayaan

Namun pertanyaan pentingnya bukan sekadar dari mana klappertaart berasal, melainkan bagaimana ia kemudian menjadi identik dengan perayaan Natal.

Secara historis, klappertaart tidak diciptakan sebagai “kue Natal” dalam pengertian liturgis. Ia tidak memiliki simbol teologis, tidak disebut dalam kalender gerejawi, dan tidak lahir dari ritual keagamaan tertentu.

Tetapi Natal, khususnya di Manado, bukan hanya perayaan gereja. Natal adalah peristiwa sosial dan kultural yang melibatkan rumah, keluarga besar, dan komunitas.

Manado memiliki sejarah panjang Kekristenan sejak masa kolonial, dengan gereja bukan hanya sebagai institusi iman, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial.

Natal di Manado tumbuh sebagai perayaan besar. Misa malam, rumah terbuka, kunjungan tanpa henti, meja makan yang nyaris tak pernah kosong. Dalam konteks inilah klappertaart menemukan tempatnya.

Sebagai kue yang membutuhkan bahan mahal dalam konteks masa kolonial, klappertaart sejak awal sudah menempati kategori “makanan istimewa”. Ia bukan kue untuk hari biasa.

Klappertaart dibuat ketika ada alasan untuk merayakan, ketika kelimpahan boleh ditampilkan, dan ketika dapur bekerja bukan untuk sekadar mengenyangkan, tetapi untuk memuliakan momen. Natal menyediakan legitimasi simbolik bagi semua itu.

Di sinilah proses yang menarik terjadi. Klappertaart mengalami apa yang bisa disebut sebagai “ritualisasi kuliner”. Ia mulai dibuat menjelang Natal, diwariskan resepnya dari ibu ke anak perempuan dalam konteks “kue Natal”, dan dihadirkan di meja sebagai penanda bahwa perayaan ini sungguh-sungguh.

Lambat laun, kehadirannya tidak lagi netral. Klappertaart kemudian dirindukan saat Natal dan jadi identik dengan Natal.

“Klapper” artinya kelapa. Jadi, Klappertaart adalah kue tart berbahan utama kelapa. Kue Natal khas Manado ini diciptakan oleh orang Belanda pada era kolonial dengan memandaatkan bahan lokal yang melimpah, yakni kelapa | Foto: Flickr/Christine Klappertaart

Pengaruh gereja tidak bisa dilepaskan dari proses ini. Gereja, dengan kalender liturginya, menyediakan ritme: masa penantian Advent, lalu ledakan perayaan Natal.

Dalam ritme ini, makanan memainkan peran penting. Setelah penantian dan pengendalian diri, Natal hadir sebagai momen perayaan dan kelimpahan.

Klappertaart menjadi bagian dari logika itu. Klappertaart adalah representasi perayaan dalam bentuk yang bisa disentuh dan dirasakan.

Pada masa pascakolonial, klappertaart juga mengalami transformasi makna. Ia tidak lagi semata-mata simbol Eropa atau kolonial, melainkan penanda identitas lokal Kristen Manado.

Membuat klappertaart adalah cara menunjukkan keterikatan pada tradisi, pada keluarga, pada ingatan kolektif tentang Natal. Ia menjadi semacam arsip sejarah yang bisa dimakan. Klappertaart menyimpan sejarah kolonialisme, misi gereja, adaptasi lokal, dan kebanggaan komunitas dalam satu loyang kue.

BACA JUGA: Aroma Harum Nan Unik Kue Berbumbu Spekuk, Terbuat dari Apakah Bumbu Khas Ini?

Karena itu, bertanya apakah klappertaart “benar-benar” makanan Natal mungkin bukan pertanyaan yang paling tepat. Lebih tepat bertanya: bagaimana Natal memberi makna pada klappertaart, dan bagaimana klappertaart membantu orang-orang merayakan Natal.

Seiris klappertaart, pada akhirnya, adalah lebih dari sekadar dessert. Ia adalah pengingat bahwa sejarah besar kolonialisme, agama, modernitas sering kali bertahan bukan dalam arsip resmi atau monumen, melainkan dalam dapur-dapur rumah.

Pada malam Natal, ketika kue itu dipotong dan dibagikan, yang dirayakan bukan hanya kelahiran Kristus, tetapi juga ingatan bersama tentang siapa kita, dari mana kita datang, dan bagaimana kita memilih untuk merayakan kebersamaan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *