
Di Indonesia, malam Tahun Baru hampir selalu berbau sama: aroma jagung bakar. Di banyak tempat, jagung disandingkan dengan sosis, ikan, atau sate.
Orang-orang berkumpul di halaman rumah, di pinggir jalan, atau di lapangan terbuka. Mereka mengipas bara, menunggu makanan matang sambil berbincang. Tidak selalu mewah, tidak selalu rapi, tetapi nyaris selalu ramai.
Tradisi ini ternyata bukan kekhasan Indonesia semata.
Di Australia dan Amerika, malam pergantian tahun identik dengan BBQ. Di Afrika Selatan, ada braai, pesta memanggang besar yang melibatkan keluarga dan tetangga. Di Amerika Latin, asado menjadi jamuan panjang yang disiapkan bersama.
Bentuk dan bahannya berbeda, tetapi polanya serupa. Tahun Baru dirayakan dengan makanan panggang, tungku, dan api.
Seolah-olah, di banyak tempat di dunia, Tahun Baru memang “pantas” disambut dengan sesuatu yang dipanggang atau dibakar serta melibatkan bara dan api.
Adakah logika yang bisa ditelusuri di balik fenomena universal ini?
Api di Mana-mana pada Malam Pergantian Tahun
Menariknya, api tidak hanya hadir di panggangan. Di langit, kembang api meledak berwarna-warni. Di jalanan, petasan berdentum. Di halaman rumah, arang membara merah. Api hadir berlapis-lapis. Di tungku, di jalanan, dan di udara.
Ini memunculkan pertanyaan sederhana tetapi menarik: mengapa malam Tahun Baru begitu lekat dengan api? Mengapa bukan hidangan dingin, bukan perayaan sunyi, bukan sekadar hitung mundur lalu tidur?
Jawabannya tidak berhenti pada urusan selera atau kebetulan budaya. Ada sesuatu yang lebih dalam pada aktivitas memanggang dan membakar makanan. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan cara manusia merayakan kebersamaan dan perubahan.
Memanggang Makanan, Aktivitas yang Menuntut Kebersamaan
Memanggang sebetulnya bukan cara memasak yang efisien. Ia butuh waktu, perhatian, dan kehadiran.
Bara harus dijaga, makanan dibalik agar tak gosong, panas diatur. Proses ini hampir selalu dilakukan sambil menunggu. Dan menunggu itu jarang dilakukan sendirian.
Berbeda dengan makanan siap saji yang bisa dibeli dan disantap tanpa interaksi, makanan panggang mengundang partisipasi. Seseorang mengipas arang, yang lain menusuk sate, yang lain lagi membagikan jagung yang sudah matang. Obrolan mengalir justru di sela-sela menunggu.
Di sini, makanan bukan sekadar hasil akhir. Proses memasaknya adalah inti perayaan. Tahun Baru dirayakan bukan hanya dengan apa yang dimakan, tetapi dengan bagaimana makanan itu disiapkan secara bersama-sama.
Jadi, poin terpenting di sini adalah hadirnya kebersamaan.
Jejak Purba di Sekitar Bara
Jika ditarik lebih jauh, pola ini terasa sangat tua. Jauh sebelum restoran, kompor, atau oven listrik hadir, manusia sudah berkumpul mengelilingi api unggun.
Api memungkinkan makanan dimasak, tetapi juga menciptakan lingkaran sosial. Orang-orang duduk melingkar, mengelilingi api, berbagi hasil buruan dan berbagi cerita.
Api adalah pusat kehidupan sosial paling awal. Ia memberi cahaya, kehangatan, dan rasa aman. Di sekeliling api, komunitas terbentuk.
Tanpa disadari, tradisi bakar-bakaran pada malam Tahun Baru seperti menghidupkan kembali pola purba itu. Jagung bakar, BBQ, atau sate bukan sekadar makanan modern, melainkan ritual lama dalam bentuk baru. Inilah ritual berkumpul di sekitar api dan berbagi.

Api, Tahun Baru, dan Situasi Ambang
Malam pergantian tahun itu sendiri adalah momen ambang. Ia bukan lagi tahun lama, tetapi juga belum sepenuhnya tahun baru. Dalam situasi seperti ini, banyak kebudayaan menggunakan api sebagai simbol.
Api bersifat mengubah. Yang mentah menjadi matang. Yang dingin menjadi hangat. Yang gelap menjadi terang.
Dalam pengertian simbolik, api juga membakar sisa-sisa lama. Kegagalan, kelelahan, beban, sebelum memberi ruang bagi sesuatu yang baru.
Kembang api dan petasan bisa dibaca sebagai bentuk ekspresif dari gagasan ini. Ledakan cahaya untuk menandai peralihan, suara keras untuk memutus masa lalu. Sementara api panggangan bekerja lebih tenang, lebih intim, tetapi tidak kalah bermakna.
Api sebagai Bahasa Universal Tahun Baru
Dari jagung bakar di Indonesia hingga braai di Afrika Selatan, dari BBQ di halaman rumah hingga kembang api di langit kota, api tampaknya menjadi bahasa yang dipahami lintas budaya. Ia sederhana, mudah diakses, dan sarat makna.
Api menghangatkan tubuh sekaligus memperantarai hubungan antarmanusia. Ia memaksa orang untuk berhenti sejenak, berkumpul, dan hadir bersama.
BACA JUGA: Ingin Adakan Pesta BBQ di Rumah? Ini Dia Tips Memilih Daging dan Seafood untuk BBQ Super Lezat!
Karena itu, selama manusia merayakan pergantian tahun secara kolektif, api akan terus kembali dalam bentuk apa pun.
Ketika malam semakin larut, bara mulai meredup, dan makanan terakhir habis dibagi, yang tersisa bukan hanya rasa kenyang. Ada rasa kebersamaan yang hangat, sebuah pengingat bahwa Tahun Baru, pada akhirnya, adalah tentang memulai lagi bersama-bersama.
Dan mungkin itulah sebabnya, setiap kali tahun berganti, kita selalu menyalakan api. Selamat Tahun Baru!
