Ramadan di Tiongkok: Bagaimana Muslim Hui dan Uyghur Berbuka Puasa dengan Mi, Roti Naan, dan Teh Hangat


Islam sudah masuk ke Tiongkok sejak berabad-abad silam melalui jalur perdagangan yang dikednal sebagai Jalur Sutra. Komunitas-komunitas Muslim di Tiongkok, meski minoritas, kemudian melahirkan budaya yang khas, perpaduan antara budaya Tiongkok dan tradisi Islam, termasuk budaya kuliner mereka saat bulan Ramadan. | Ilustrasi: Telusur Dapur/Citra AI

Ketika mendengar kata Ramadan, kebanyakan orang di Indonesia biasanya membayangkan kolak pisang dan ubi, gorengan dan lontong isi, atau es buah nan segar. Suasana pasar takjil yang ramai menjelang Magrib juga menjadi pemandangan yang lazim.

Namun Ramadan tidak hanya dirayakan di negara-negara yang mayoritas Muslim. Di negeri yang identik dengan mi, pangsit, dan teh seperti China, komunitas Muslim juga menjalankan puasa dengan tradisi yang khas dan berbeda dengan di Indonesia.

BACA JUGA: Jelajahi Rasa dan Budaya di Jeddah, Jadikan Pengalaman Istimewa yang Tak Terlupakan

Di berbagai kota tua di Tiongkok yang menjadi pusat komunitas Muslim, Ramadan menghadirkan perpaduan menarik antara budaya Tiongkok dan tradisi Islam.

Saat waktu berbuka tiba, di meja makan tidak tersaji kolak dan gorengan, melainkan mi tarik hangat, roti naan, sup daging, dan secangkir teh.

Jejak Panjang Islam di Tiongkok

Bagi sebagian orang, keberadaan umat Islam di Tiongkok mungkin terdengar agak ganjil. Padahal, Islam telah hadir di wilayah ini sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Para sejarawan umumnya meyakini bahwa Islam masuk ke Tiongkok melalui jalur perdagangan kuno yang dikenal sebagai Jalur Sutra. Para pedagang dari Arab dan Persia membawa agama, budaya, serta tradisi kuliner mereka ke berbagai kota perdagangan di Asia Tengah hingga ke Tiongkok.

Dari proses sejarah yang panjang ini lahirlah komunitas Muslim di Tiongkok, terutama dua kelompok besar:

  • Komunitas Hui
  • Komunitas Uyghur

Komunitas Hui tersebar di banyak kota di Tiongkok. Secara kultural, mereka cukup menyatu dengan masyarakat Tionghoa pada umumnya. Hanya saja, mereka memegang aturan makanan halal.

Sementara itu, komunitas Uyghur memiliki latar budaya yang lebih dekat dengan Asia Tengah dan banyak tinggal di wilayah barat Tiongkok.

Kedua komunitas ini memiliki tradisi Ramadan yang kaya, termasuk dalam hal makanan berbuka puasa.

Suasana Ramadan di Kota-Kota Muslim di Tiongkok

Di beberapa kota tua di Tiongkok, Ramadan menghadirkan suasana yang mengingatkan pada pasar takjil di Indonesia.

Contohnya di kota bersejarah seperti Xi’an, yang dahulu menjadi titik penting Jalur Sutra, komunitas Muslim sudah hidup selama berabad-abad. Di sana berdiri salah satu masjid tertua di Tiongkok, yaitu Masjid Agung Xi’an.

Menjelang waktu berbuka, kawasan sekitar masjid biasanya dipenuhi pedagang makanan halal. Aroma sup daging, mi panas, dan roti panggang memenuhi udara. Orang-orang datang membeli makanan untuk dibawa pulang atau dimakan bersama keluarga.

Di wilayah barat seperti Kashgar, suasana Ramadan bahkan terasa lebih kental. Kota tua dengan arsitektur khas Asia Tengah ini memiliki pasar makanan yang ramai menjelang Magrib, di mana berbagai hidangan tradisional dijual untuk berbuka puasa.

Roti naan adalah roti pipih yang dipanggang di tungku tanah liat. Roti ini merupakan makanan populer untuk berbuka puasa, biasanya disantap bersama olahan daging. | Foto: Vecteezy
Apa yang Dimakan Saat Berbuka?

Di Indonesia, makanan berbuka sering berupa penganan yang manis-manis seperti kolak atau es buah. Sementara itu, menu berbuka puasa di komunitas Muslim Tiongkok cenderung lebih gurih dan hangat.

Mi Tarik Halal

Salah satu makanan paling terkenal adalah mi tarik atau lamian. Mi ini dibuat dengan cara menarik adonan secara manual hingga membentuk untaian panjang.

Biasanya mi disajikan dengan kuah kaldu daging sapi atau kambing yang hangat. Setelah seharian berpuasa, semangkuk mi panas seperti ini terasa nikmat dan mengenyangkan.

Roti Naan Xinjiang

Di wilayah barat Tiongkok, terutama di komunitas Uyghur, roti pipih yang disebut naan sangat populer. Roti ini dipanggang di tungku tanah liat dan sering dimakan bersama daging panggang atau sup.

Teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam, menjadikannya makanan yang cocok untuk berbuka.

Sup Daging Hangat

Sup kambing atau sapi juga sering menjadi hidangan utama saat berbuka puasa. Kuahnya biasanya kaya rasa dan sedikit berlemak, memberikan energi setelah tubuh menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Kurma dan Teh

Seperti di banyak negara Muslim lainnya, kurma tetap menjadi makanan pembuka puasa yang umum. Kurma sering dimakan terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan yang lebih berat.

Yang menarik, minuman yang paling sering menemani berbuka adalah teh hangat. Budaya minum teh yang kuat dalam masyarakat Tiongkok membuat minuman ini hampir selalu hadir di meja makan, termasuk saat Ramadan.

Pasar Halal Ramadan

Salah satu pemandangan menarik selama Ramadan di komunitas Muslim Tiongkok adalah munculnya pasar makanan halal di sekitar masjid atau kawasan Muslim.

Di pasar seperti ini, pengunjung dapat menemukan berbagai makanan seperti:

  • sate daging kambing
  • roti kukus isi daging
  • mi halal
  • aneka kue tradisional

Suasana pasar ini tidak jauh berbeda dengan pasar takjil di Indonesia. Orang-orang berjalan dari satu lapak ke lapak lain, memilih makanan untuk berbuka, sambil berbincang dengan pedagang yang sebagian besar berasal dari komunitas yang sama.

Perpaduan Budaya yang Unik

Yang membuat Ramadan di Tiongkok menarik adalah perpaduan antara tradisi Islam dan budaya Tiongkok.

Di satu sisi, praktik religiusnya sama seperti di banyak tempat lain. Umat Muslim berpuasa, berbuka dengan kurma, dan berkumpul di masjid untuk salat tarawih.

Namun di sisi lain, budaya lokal tetap terasa kuat. Makanan berbuka berupa mi, roti, dan sup daging mencerminkan kebiasaan kuliner masyarakat setempat. Teh menggantikan minuman manis yang lebih umum di Indonesia.

Hasilnya adalah tradisi Ramadan yang khas, Islam yang berakar pada budaya Tiongkok.

Mi termasuk makanan pokok yang mengakar kuat di Tiongkok. Umat Muslim umumnya juga berbuka puasa dengan mi yag diolah secara halal. | Foto: Vecteezy
Ramadan yang Berbeda, Namun Tetap Terasa Akrab

Walaupun jaraknya jauh dari Indonesia, suasana Ramadan di komunitas Muslim Tiongkok sebenarnya akan terasa tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Orang-orang tetap berkumpul menjelang Magrib, masjid menjadi pusat kegiatan, dan makanan hangat disiapkan untuk berbuka.

BACA JUGA: Pengalaman Menyantap Hidangan Daging Kambing Saat Berhaji, Sultan Banten Populerkan “Rabeg” Sebagai Kuliner Khas Tanah Kelahirannya

Perbedaannya hanya pada jenis hidangannya. Jika di Indonesia orang berbuka dengan kolak dan gorengan, di sana semangkuk mi panas atau roti naan hangat lebih sering menjadi pilihan.

Bagaimanapun juga, pada akhirnya, maknanya tetap sama. Berbagi kebahagiaan dan rasa syukur setelah seharian menahan lapar dan dahaga.