
Beberapa waktu belakangan ini, perhatian dunia tersedot ke kawasan Asia Barat (lebih baik kita sebut “Asia Barat” ketimbang “Timur Tengah” untuk menghindari sudut pandang geopolitik Barat).
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat kawasan ini kembali menjadi sorotan global. Berita tentang rudal dan manuver militer hampir setiap hari menghiasi media internasional.
Namun di balik semua itu, kehidupan sehari-hari tetap harus berjalan. Ramadan tetap datang seperti biasa.
Di kota-kota di Iran, lampu-lampu masjid tetap menyala pada malam hari. Pasar tetap ramai menjelang waktu berbuka, dan keluarga-keluarga, bagaimanapun kondisinya, tetap menantikan datangnya hari raya.
Bagi umat Muslim di Iran, yang mayoritas menganut mazhab Syiah Dua Belas Imam, Idulfitri dikenal dengan nama Eid-e Fetr. Seperti di banyak tempat lain di dunia Islam, Idulfitri menandai berakhirnya puasa Ramadan sekaligus menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga dan berbagi makanan.
Meski tidak semeriah Lebaran di Asia Tenggara, Idulfitri di Iran memiliki tradisi yang khas pula, terutama dalam hal kuliner.
Pagi Idulfitri: Salat Id dan Zakat Fitrah
Perayaan Idulfitri di Iran dimulai sejak pagi buta. Orang-orang mengenakan pakaian terbaik mereka dan berbondong-bondong menuju masjid atau lapangan terbuka untuk melaksanakan salat Id.
Di kota-kota besar seperti Teheran, ribuan jamaah berkumpul di kompleks salat besar seperti Mosalla Imam Khomeini. Salat ini biasanya disertai khotbah yang bernuansa religius sekaligus sosial, mengajak umat untuk menjaga solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Sama seperti komunitas-komunitas Muslim di manapun, sebelum Idulfitri tiba, umat Muslim diwajibkan membayar zakat fitrah, yang dalam bahasa Persia disebut fetriyeh.
Zakat ini bisa berupa bahan pangan seperti gandum, tepung, atau kurma, tetapi kini lebih sering diberikan dalam bentuk uang yang kemudian disalurkan kepada fakir miskin.
Setelah salat usai, orang-orang saling berpelukan dan mengucapkan selamat Idulfitri. Sebagian keluarga juga mengunjungi makam kerabat untuk berdoa bagi anggota keluarga yang telah meninggal.
Silaturahmi yang Tenang dan Hangat
Berbeda dengan suasana Lebaran di Indonesia yang identik dengan mudik massal, Idulfitri di Iran biasanya berlangsung lebih tenang.
Keluarga berkumpul di rumah orang tua atau kerabat yang lebih tua. Para tamu datang silih berganti sepanjang hari, dan tuan rumah menyambut mereka dengan hidangan manis dan secangkir teh hitam Persia yang harum.
Tradisi ini mencerminkan salah satu nilai penting dalam budaya Iran, yakni mehmannavazi atau keramahan kepada tamu. Tidak lengkap rasanya menerima tamu tanpa menyuguhkan sesuatu yang manis.
Namun Idulfitri di Iran bukan hanya tentang keluarga. Hari raya ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat solidaritas sosial.
Banyak orang yang sengaja mengunjungi tetangga yang sedang mengalami kesulitan atau keluarga yang sedang berduka sebagai bentuk empati dan dukungan.
Nazar: Ketika Doa Dibayar dengan Semangkuk Sup
Salah satu tradisi yang cukup khas dalam budaya religius Iran adalah nazr atau nazar.
Nazr adalah janji yang diucapkan seseorang kepada Tuhan. Misalnya, seseorang bernazar bahwa jika doanya terkabul, entah itu kesembuhan anggota keluarga, kelulusan anak, atau keberhasilan usaha, ia akan melakukan amal tertentu.
Bentuk amal yang paling umum adalah memasak makanan dalam jumlah besar lalu membagikannya kepada masyarakat.
Makanan yang dibagikan ini sering disebut “makanan nazar” atau nazri. Hidangan tersebut biasanya dimasak dalam panci besar di halaman masjid, pusat komunitas, atau rumah keluarga yang bernazar.
Pada hari-hari besar seperti Idulfitri, hidangan nazar sering berupa sup kental yang dikenal sebagai ash.
Salah satu yang terkenal adalah Ash Abolfazl Abbas, sup yang dimasak untuk menghormati Abbas bin Ali, tokoh penting dalam tradisi Syiah. Sup ini berisi campuran kacang-kacangan, sayuran, rempah, dan kadang-kadang mi atau biji-bijian. Setelah matang, sup tersebut dibagikan kepada siapa saja yang datang.
Tradisi ini menjadikan makanan bukan sekadar santapan, tetapi juga wujud doa, sedekah, dan rasa syukur.

Meja Lebaran Persia: Surga Kue dan Manisan
Jika meja Lebaran di Indonesia identik dengan ketupat, opor ayam, dan rendang, meja Idulfitri di Iran justru dipenuhi manisan dan kue-kue tradisional.
Beberapa yang paling populer antara lain:
Nan Berenji
Kue kering dari tepung beras dengan aroma kapulaga dan air mawar. Teksturnya lembut dan sedikit rapuh.
Zulbia dan Bamieh
Manisan goreng yang sangat populer selama Ramadan. Bentuknya menyerupai jalebi dari India atau churros kecil yang direndam dalam sirup gula.
Baklava Persia
Berbeda dari baklava Turki yang sangat berlapis, versi Persia biasanya lebih tipis dan dipenuhi kacang pistachio dengan sirup saffron dan air mawar.
Shirini
Selain itu, ada berbagai jenis shirini, sebutan umum untuk kue manis Persia, yang hampir selalu hadir di meja tamu.
Semua manisan ini biasanya disajikan bersama teh hitam Persia yang diseduh kuat dan dituangkan ke dalam gelas kecil.
Ash Reshteh dan Nasi Saffron
Meski manisan mendominasi meja Lebaran, beberapa hidangan berat juga sering disajikan.
Salah satu yang paling terkenal adalah Ash Reshteh, sup kental yang berisi berbagai jenis kacang, sayuran hijau, dan mi. Sup ini memiliki rasa gurih yang dalam dan sering dianggap sebagai salah satu makanan rumahan paling ikonik di Iran.
Selain itu, beberapa keluarga juga menyajikan nasi Persia yang dimasak dengan saffron, rempah mahal yang menjadi kebanggaan kuliner Iran. Nasi ini biasanya disajikan bersama lauk daging atau stew.
Dalam beberapa kasus, keluarga yang bernazar atau ingin bersedekah juga menyembelih domba atau kambing, lalu membagikan dagingnya kepada tetangga atau fakir miskin.
Idulfitri dan Nowruz: Dua Wajah Perayaan Iran
Menariknya, meski Idulfitri adalah hari raya besar dalam Islam, bagi banyak orang Iran perayaan sosial terbesar dalam setahun justru adalah Nowruz, yaitu tahun baru Persia yang berasal dari tradisi kuno sebelum Islam.
Jika Idulfitri lebih bernuansa religius dan khidmat, Nowruz biasanya dirayakan dengan pesta besar, perjalanan keluarga, dan tradisi meja simbolik yang disebut Haft-Seen.
Perbedaan ini mencerminkan identitas Iran yang unik, sebuah peradaban yang memadukan warisan Persia kuno dengan tradisi Islam.
BACA JUGA: Saffron, Rempah Termahal di Dunia yang Mengubah Warna, Aroma, dan Sejarah Masakan
Idulfitri yang Tetap Datang
Di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat, kehidupan masyarakat Iran tetap berjalan seperti biasa. Ramadan tetap dilalui dengan puasa, doa, dan kebersamaan. Dan ketika bulan suci itu berakhir, Idulfitri tetap datang membawa kegembiraan.
Orang-orang tetap salat bersama di pagi hari, tetap berkunjung ke rumah keluarga, dan tetap menyajikan kue-kue manis serta sup hangat kepada tamu.
Di meja-meja sederhana itu, kita melihat sesuatu yang lebih universal daripada politik atau konflik. Makanan, keluarga, dan harapan yang selalu hadir setiap kali Ramadan berakhir.
