Ramadan di Rusia: Puasa Panjang, Tradisi Muslim, dan Jejak Kuliner dari Volga hingga Kaukasus


Komunitas-komunitas Muslim di Rusia menyantap sajian kuliner khas mereka saat berbuka puasa, antara lain echpochmak dan qistibi. Sup dagng juga kerap disajikan bersama teh panas. Makanan dan minuman panas sangat penting di Rusia karena cuacanya yang sangat dingin. | Ilustrasi: Telusur Dapur/Citra AI

Bagi banyak orang, Rusia identik dengan kubah gereja Ortodoks, musim dingin yang panjang, dan bentangan salju yang seolah tak berujung.

Namun di balik citra itu, ada kisah lain yang jarang disorot. Rusia juga memiliki komunitas Muslim yang besar dan memiliki akar sejarah yang kuat. Bahkan, Islam kerap disebut sebagai agama terbesar kedua di negara itu.

BACA JUGA: Idulfitri di Iran: Manisan, Sup Nazar, dan Hidangan Lebaran Khas Negeri Persia

Ketika Ramadan tiba, jutaan umat Muslim Rusia menjalani puasa dengan cara yang khas, yang dipengaruhi oleh geografi yang ekstrem, tradisi etnis yang beragam, serta warisan sejarah yang panjang.

Dari padang rumput Volga hingga pegunungan Kaukasus, Ramadan di Rusia menghadirkan lanskap religius sekaligus tradisi kuliner yang unik.

Jejak Panjang Islam di Tanah Rusia

Islam hadir di wilayah Rusia jauh sebelum negara Rusia modern terbentuk. Pada abad ke-7, pedagang dan pasukan dari dunia Islam mulai memasuki kawasan Kaukasus.

Kota Derbent di Dagestan sering disebut sebagai salah satu pintu awal masuknya Islam di wilayah yang kini termasuk Rusia.

Perkembangan Islam semakin nyata pada abad ke-10 ketika kerajaan Volga Bulgaria memeluk Islam. Kerajaan ini terletak di sekitar Sungai Volga, wilayah yang kini menjadi rumah bagi bangsa Tatar. Dari sinilah tradisi Islam berkembang di kawasan Eurasia utara.

Pada abad-abad berikutnya, wilayah Rusia bagian selatan dan tengah juga menjadi rumah bagi beberapa kerajaan Muslim, seperti Khanat Kazan, Astrakhan, dan Krimea.

Ketika Kekaisaran Rusia memperluas wilayahnya pada abad ke-16, daerah-daerah Muslim tersebut akhirnya berada di bawah kekuasaan Moskow.

Era kekuasaan Soviet kemudian menekan praktik keagamaan, termasuk Islam. Namun identitas Islam tidak pernah benar-benar hilang.

Setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, kehidupan religius kembali bangkit. Masjid-masjid direnovasi atau dibangun kembali, dan Ramadan kembali dirayakan secara terbuka.

Komunitas Muslim yang Beragam

Salah satu hal menarik tentang Islam di Rusia adalah keragamannya. Muslim Rusia bukan satu kelompok tunggal, melainkan mosaik berbagai etnis dan budaya.

Di wilayah Volga–Ural, komunitas terbesar adalah bangsa Tatar dan Bashkir. Mereka memiliki tradisi Islam yang sudah berakar berabad-abad lamanya. Kota Kazan, ibu kota Republik Tatarstan, sering dianggap sebagai salah satu pusat budaya Islam Rusia.

Sementara itu di Kaukasus Utara, yang meliputi Chechnya, Dagestan, dan Ingushetia, Islam memiliki karakter yang berbeda. Di wilayah pegunungan ini, kehidupan religius sering kali lebih konservatif dan kuat terikat pada tradisi lokal.

Selain itu ada pula komunitas Muslim di Siberia, terutama Tatar Siberia, serta komunitas Muslim perkotaan di kota-kota besar seperti Moskow dan St. Petersburg. Di kota-kota ini, komunitas Muslim semakin beragam karena banyak migran dari Asia Tengah seperti Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgizstan.

Masjid Qol Sharif di Kazan adalah salah satu masjid paling terkenal di Rusia. Kubah-kubahnya yang biru dan menara-menaranya yang putih menjulang sangat ikonik dan selalu diingat orang ketika bicara tentang eksistensi Islam di Rusia. | Foto: Wikimedia Commons/Gontzal86
Puasa di Negeri dengan Matahari yang “Aneh”

Geografi Rusia memberi tantangan unik bagi ibadah puasa.

Karena wilayah Rusia membentang sangat luas hingga mendekati Lingkar Arktik, panjang siang dan malam bisa berubah drastis tergantung musim.

Ketika Ramadan jatuh pada musim panas, umat Muslim di beberapa wilayah harus berpuasa sangat lama. Di Moskow misalnya, durasi puasa bisa mencapai sekitar 17 hingga 18 jam.

Di wilayah yang lebih utara, fenomenanya bahkan lebih ekstrem. Pada musim panas, matahari hampir tidak terbenam. Dalam situasi seperti ini, para ulama biasanya menyarankan mengikuti jadwal kota lain yang lebih normal, atau menggunakan jadwal Mekah.

Sebaliknya, jika Ramadan jatuh pada musim dingin, durasi puasa bisa jauh lebih pendek. Kadang hanya sekitar tujuh atau delapan jam. Bayangkan berbuka puasa ketika matahari terbenam pada pukul tiga sore.

Perbedaan ini tentu memengaruhi kebiasaan makan. Menu sahur di Rusia sering dibuat lebih berat dan mengenyangkan agar mampu menopang puasa yang panjang.

Masjid-Masjid Rusia: Perpaduan Timur dan Eurasia

Jejak Islam di Rusia juga tercermin dalam arsitekturnya. Masjid-masjid Rusia memiliki gaya yang unik, menggabungkan pengaruh Turki, Tatar, dan arsitektur Rusia.

Di Kazan berdiri Masjid Qol Sharif, salah satu masjid paling terkenal di Rusia. Masjid ini memiliki kubah biru dan menara-menara ramping yang berdiri megah di dalam kompleks Kremlin Kazan.

Di Moskow terdapat Moscow Cathedral Mosque, salah satu masjid terbesar di Eropa. Bangunan ini direnovasi secara besar-besaran pada dekade terakhir dan kini mampu menampung puluhan ribu jamaah.

Sementara itu di Chechnya berdiri Masjid “Heart of Chechnya” di kota Grozny, masjid besar bergaya Ottoman yang menjadi simbol kebangkitan Islam di kawasan Kaukasus.

Pada malam Ramadan, masjid-masjid ini dipenuhi jamaah yang datang untuk salat tarawih, menciptakan suasana religius yang hangat di tengah kota-kota Rusia.

Suasana Ramadan di Kota-Kota Rusia

Ramadan di Rusia bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga perayaan komunitas.

Di banyak masjid, terutama di kota besar, buka puasa bersama menjadi tradisi penting. Meja panjang digelar, dan makanan dibagikan kepada siapa pun yang datang, baik jamaah setempat maupun musafir.

Di beberapa kota juga muncul pasar Ramadan dadakan. Kurma impor dari Asia Barat, roti, sup hangat, dan berbagai makanan tradisional Muslim dijual menjelang waktu berbuka.

Setelah berbuka, kehidupan malam Ramadan pun dimulai. Orang-orang berkumpul di masjid untuk salat tarawih, kemudian bercengkerama sambil minum teh hingga larut malam.

Hidangan Ramadan: Dari Pai Daging hingga Manisan Madu

Bagi pecinta kuliner, Ramadan di Rusia adalah kesempatan untuk mencicipi hidangan khas komunitas Muslim Eurasia.

Di wilayah Tatarstan, salah satu makanan terkenal adalah echpochmak, pai segitiga yang diisi daging, kentang, dan bawang. Hidangan ini berasal dari tradisi nomadik bangsa Turkik yang membutuhkan makanan praktis namun mengenyangkan.

Ada juga qistibi, roti pipih yang diisi kentang tumbuk atau bubur gandum, serta chak-chak, manisan yang dibuat dari potongan adonan goreng yang disiram madu. Chak-chak sering disajikan pada acara perayaan, termasuk Idulfitri.

Di Kaukasus Utara, menu buka puasa biasanya lebih sederhana tetapi hangat. Sup daging, roti pipih, dan kebab. Makanan hangat sangat penting karena cuaca yang sering dingin, bahkan pada awal musim semi.

Seperti di banyak wilayah Eurasia, teh hitam memainkan peran penting dalam tradisi makan. Setelah berbuka, teh panas hampir selalu disajikan bersama kue-kue manis atau roti.

Chak-chak, manisan dari potongan adonan goreng yang disiram madu, adalah salah satu kuliner khas Rusia yang kerap disajikan saat Ramadan maupun Idulfitri. | Foto: Flickr/Katya
Idulfitri di Rusia

Idulfitri di Rusia dikenal dengan nama Uraza Bayram. Pada pagi hari, ribuan bahkan puluhan ribu orang berkumpul di masjid untuk salat Id.

Di Moskow, jamaah sering meluber hingga ke jalan-jalan sekitar masjid karena jumlahnya yang sangat besar. Setelah salat, keluarga-keluarga pulang ke rumah untuk merayakan hari raya dengan hidangan tradisional.

Meja makan biasanya penuh dengan berbagai roti, pai, sup, dan manisan. Teh panas kembali menjadi minuman utama yang mengiringi perayaan.

Ramadan di Ujung Utara Dunia Islam

Ramadan di Rusia menunjukkan bahwa Islam tidak hanya hidup di wilayah Asia Barat (Timur Tengah) atau Asia Selatan. Ia juga berakar kuat di kawasan Eurasia utara. Di tengah padang rumput, hutan birch, dan musim dingin yang panjang.

BACA JUGA: Ramadan di Tiongkok: Bagaimana Muslim Hui dan Uyghur Berbuka Puasa dengan Mi, Roti Naan, dan Teh Hangat

Di negeri dengan siang yang kadang hampir tak berakhir, umat Muslim Rusia tetap menjalani puasa dengan ketekunan dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari echpochmak yang hangat hingga chak-chak yang manis, Ramadan di Rusia menghadirkan perpaduan menarik antara sejarah, geografi, dan kuliner.

Dan seperti di banyak tempat lain di dunia, pada akhirnya Ramadan di Rusia juga bermuara pada hal yang sama. Kebersamaan di meja makan saat waktu berbuka tiba.