
Beberapa waktu belakangan ini, matcha seakan tak pernah absen dari perbincangan kuliner di Indonesia.
Beraneka sajian yang memakai matcha begitu populer. Mulai dari matcha latte yang jadi andalan kafe, es krim matcha di berbagai mal, hingga kudapan viral seperti risoles matcha cheese yang meramaikan media sosial.
Semua membuktikan, matcha sedang menjadi bintang.
Tapi di balik popularitas matcha, ada pertanyaan sederhana yang justru sering terlewat. Sebenarnya matcha itu apa, sih?
BACA JUGA: Risoles Matcha Cheese Makin Viral! Takjil Anti-Mainstream yang Bikin Buka Puasa Makin Spesial
Apakah ia sekadar teh hijau yang dihaluskan? Apa bedanya dengan ocha yang biasa disajikan gratis di restoran Jepang? Dan kenapa rasanya tidak selalu manis seperti yang kita kira?
Jika Anda termasuk yang penasaran, atau mungkin selama ini ikut-ikutan tren tapi belum benar-benar mengenal matcha, artikel ini akan mengupas tuntas.
Kita telusuri sejarahnya yang sarat filosofi, proses pembuatannya yang tak biasa, hingga bagaimana bubuk hijau ini bisa berubah dari minuman meditasi biksu Zen menjadi primadona di dalam kuliner kekinian.
Yuk, kita kenal matcha lebih dekat!
Apa Itu Matcha?
Secara sederhana, matcha adalah bubuk teh hijau khas Jepang yang dibuat dari daun teh pilihan.
Kata matcha sendiri berasal dari bahasa Jepang ma (抹) yang berarti “bubuk”, dan cha (茶) yang berarti “teh”. Jadi, matcha adalah teh dalam bentuk bubuk.
Perbedaan mendasar antara matcha dan teh hijau biasa terletak pada cara mengonsumsinya.
Teh hijau biasa diseduh dengan air panas, lalu daunnya dibuang. Sebaliknya, matcha dikonsumsi seluruhnya dalam bentuk bubuk.
Artinya, kita meminum (atau memakan) daun teh utuh. Inilah mengapa matcha memiliki rasa yang lebih kaya dan kandungan nutrisi yang lebih padat.
Lalu apa bedanya dengan ocha?
Ocha (お茶) adalah istilah umum dalam bahasa Jepang untuk “teh”, biasanya merujuk pada teh hijau biasa yang diseduh.
Jadi, saat Anda mendapat teh hangat gratis di restoran Jepang, itu adalah ocha, bukan matcha. Keduanya sama-sama teh hijau, tetapi proses dan cara penyajiannya sangat berbeda.

Sejarah Matcha: Dari Biksu Zen Hingga Menu Kekinian
Perjalanan matcha dimulai jauh sebelum ia menjadi bintang media sosial.
Pada abad ke-12, seorang biksu Buddha asal Jepang bernama Eisai membawa bibit teh dari Tiongkok setelah mempelajari tradisi teh di sana.
Ia kemudian memperkenalkan metode menumbuk daun teh menjadi bubuk, yang menjadi cikal bakal matcha seperti yang kita kenal sekarang.
Bagi Eisai dan para biksu Zen lainnya, matcha bukan sekadar minuman. Ia menjadi bagian penting dari meditasi karena kombinasi kafein dan L-theanine dalam matcha membantu tubuh tetap waspada namun tenang.
Matcha kemudian diadopsi oleh kalangan samurai dan bangsawan, hingga akhirnya dipopulerkan sebagai bagian dari upacara minum teh (chanoyu) oleh tokoh legendaris Sen no Rikyu pada abad ke-16.
Dalam upacara teh, setiap gerakan, dari membawa mangkuk, mengocok matcha dengan chasen (pengocok bambu), hingga menikmatinya, mengandung filosofi mendalam tentang kesederhanaan, harmoni, dan penghormatan terhadap momen yang sedang berlangsung.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai prinsip wabi-sabi dan ichi-go ichi-e.
Memasuki abad ke-20 dan 21, matcha mulai keluar dari ranah ritual. Inovasi kuliner membawa matcha ke dalam berbagai bentuk baru: matcha latte, es krim, kue, cokelat, hingga risoles matcha cheese.
Dari yang sakral menjadi populer, matcha tetap mempertahankan keunikannya sebagai teh yang tidak sekadar diminum, tetapi juga dinikmati dalam berbagai cara.
Proses Pembuatan Matcha: Mengapa Tidak Sama dengan Teh Hijau Biasa?
Jika Anda mengira matcha hanya teh hijau yang dihaluskan, Anda perlu menyimak bagian ini.
Proses pembuatan matcha sangatlah istimewa dan membutuhkan ketelitian tinggi. Berikut langkah-langkahnya.
1. Penanaman dengan Naungan (Oishita Saibai)
Sekitar 20-30 hari sebelum panen, tanaman teh ditutup dengan jaring hitam atau jerami untuk memblokir 90% sinar matahari.
Teknik yang disebut oishita saibai ini tujuannya untuk:
- Meningkatkan produksi klorofil, yang membuat daun berwarna hijau cerah.
- Memicu pembentukan L-theanine, asam amino yang memberikan rasa umami (gurih) khas matcha.
Daun teh biasa yang terpapar sinar matahari penuh justru menghasilkan lebih banyak katekin (zat yang membuat teh terasa pahit).
2. Panen dan Pengolahan
Hanya pucuk daun termuda yang dipanen, biasanya sekali dalam setahun pada bulan Mei.
Daun yang dipetik segera dikukus untuk menghentikan proses oksidasi (sama seperti teh hijau Jepang pada umumnya), lalu dikeringkan.
Pada tahap ini, tulang daun dihilangkan sehingga hanya tersisa bagian daging daun yang disebut tencha.
3. Penggilingan dengan Batu Granit
Tencha kemudian digiling secara perlahan menggunakan penggiling batu granit tradisional. Proses ini sangat lambat. Sekitar satu jam hanya menghasilkan 30-40 gram matcha.
Tujuannya agar bubuk yang dihasilkan sangat halus seperti bedak, tanpa menimbulkan panas yang bisa merusak rasa dan aroma.
Proses inilah yang membedakan matcha asli dengan teh hijau bubuk biasa yang hanya digiling dengan mesin cepat tanpa melalui tahap penanaman khusus.

Grade Matcha: Tidak Semua Matcha Sama
Saat membeli matcha, Anda mungkin menjumpai istilah ceremonial grade, premium grade, atau culinary grade. Ini bukan sekadar strategi pemasaran. Setiap grade memiliki karakteristik dan kegunaan yang berbeda.
Ceremonial Grade
- Warna hijau cerah, tekstur sangat halus, rasa umami lembut, sedikit pahit.
- Digunakan untuk upacara minum teh, diminum langsung tanpa campuran.
Premium Grade
- Kualitas tinggi, cocok untuk konsumsi harian.
- Dipakai untuk matcha latte dan minuman sehari-hari.
Culinary Grade
- Warna lebih kusam, rasa lebih pahit, harga lebih terjangkau.
- Dipakai untuk campuran kue, es krim, risoles, dan olahan makanan lainnya.
Tips memilih matcha
Lihat warnanya. Matcha berkualitas tinggi memiliki warna hijau cerah seperti daun muda. Jika warnanya kekuningan atau kecokelatan, itu pertanda kualitas rendah atau sudah terlalu lama terpapar udara.
Tradisi Matcha di Jepang: Bukan Sekadar Minuman
Di Jepang, matcha memiliki tempat istimewa dalam budaya. Ia tidak hanya diminum, tetapi juga dialami.
Upacara teh Jepang (sado atau chado) adalah seni yang membutuhkan pembelajaran bertahun-tahun.
Setiap elemen, mulai dari mangkuk teh (chawan), pengocok bambu (chasen), sendok bambu (chashaku), hingga dekorasi ruangan, dirancang untuk menciptakan harmoni antara tuan rumah dan tamu.
Prinsip utamanya adalah omotenashi. Keramahan yang tulus, tanpa pamrih.
Dalam kehidupan sehari-hari, matcha juga hadir dalam bentuk yang lebih santai. Banyak keluarga Jepang menikmati matcha latte di rumah.
Matcha juga menjadi bahan favorit untuk dessert seperti matcha mochi, matcha ice cream, hingga matcha soba (mie soba hijau).
Matcha dalam Kuliner Kreatif di Indonesia
Di Indonesia, matcha telah melampaui batas tradisi di tanah asalnya. Ia menjadi bahan primadona untuk kreasi kuliner yang viral di media sosial. Beberapa contohnya adalah:
- Risoles matcha cheese: Camilan gurih dengan kulit risoles berwarna hijau menarik, berisi keju dan saus bercita rasa matcha.
- Matcha croissant: Lapisan pastry yang renyah dengan isian krim matcha.
- Matcha dessert box: Kue lapis dengan layer matcha yang instagramable.
- Matcha latte art: Minuman dengan foam susu yang dihias gambar-gambar cantik.
Mengapa matcha begitu cocok untuk makanan? Karena ia memiliki rasa yang kompleks. Sedikit pahit, sedikit manis alami, dan kaya umami.
Rasa ini bisa berpadu indah dengan kelembutan susu, manisnya gula, atau gurihnya keju.
Ditambah lagi, warna hijaunya yang cantik menjadi nilai tambah visual yang sangat disukai untuk konten media sosial.
Namun, perlu diingat, tidak semua produk “matcha” di pasaran menggunakan matcha asli.
Banyak yang hanya menggunakan teh hijau bubuk biasa yang tidak melalui proses naungan dan penggilingan batu. Karena itu, rasanya lebih pahit dan warnanya kurang cerah.
Jika Anda ingin merasakan matcha yang sesungguhnya, pilihlah produk yang mencantumkan asal-usul dan grade-nya.

Hal Penting Lainnya Seputar Matcha
Sebelum Anda semakin jatuh cinta pada matcha, ada beberapa hal penting yang perlu Anda tahu.
1. Matcha mengandung kafein, tapi efeknya berbeda dari kopi.
Kandungan L-theanine dalam matcha membuat efek kafein terasa lebih stabil. Anda akan merasa fokus dan tenang, tanpa gelisah atau crash seperti setelah minum kopi.
2. Matcha asli rasanya tidak manis.
Jika Anda mencoba matcha murni (usucha atau koicha), rasanya akan dominan umami gurih dengan sedikit pahit.
Rasa manis pada matcha latte atau dessert berasal dari tambahan gula, susu, atau bahan lainnya.
3. Matcha berkualitas harganya tidak murah.
Proses produksi yang rumit dan memakan waktu membuat matcha asli, terutama ceremonial grade, dibanderol dengan harga tinggi.
Jika ada matcha yang dijual sangat murah, kemungkinan besar itu bukan matcha asli.
4. Cara menyimpan matcha juga penting.
Matcha sangat sensitif terhadap cahaya, panas, dan udara. Simpan dalam wadah kedap udara di tempat sejuk dan gelap.
Setelah dibuka, sebaiknya habiskan dalam waktu 1-2 bulan untuk menjaga kualitas rasa dan warnanya.
Nikmati Matcha dengan Pemahaman yang Tepat
Matcha bukan sekadar tren sesaat. Ia adalah warisan budaya Jepang yang kaya akan sejarah, filosofi, dan keahlian.
Dari ritual meditasi biksu Zen, upacara teh yang penuh makna, hingga risoles viral di media sosial, matcha terus berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.
Dengan memahami apa itu matcha, bagaimana ia dibuat, dan apa saja jenisnya, Anda tidak hanya akan lebih pandai memilih produk berkualitas, tetapi juga lebih menghargai setiap tegukan atau gigitan yang mengandung bubuk hijau istimewa ini.
Jika lain kali Anda menikmati matcha latte di kafe favorit atau mencicipi risoles matcha cheese yang sedang viral, Anda sudah tahu, di balik warna hijaunya yang cantik, ada cerita panjang tentang kesabaran, harmoni, dan cinta terhadap kesempurnaan.
Selamat menikmati matcha dengan cara yang paling Anda suka!
