
Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang berulang. Dari Aceh hingga Jawa, dari kampung-kampung di pesisir sampai kompleks-kompleks perumahan di perkotaan, bubur seperti memiliki hak istimewa saat senja Ramadan tiba.
Selain kolak dan kurma, mangkuk-mangkuk bubur kerap tersaji di meja makan, di serambi masjid, bahkan di lapak-lapak takjil pinggir jalan.
Pertanyaannya: mengapa bubur?
Mengapa bukan nasi hangat dengan lauk lengkap? Mengapa bukan gorengan renyah atau hidangan berat penuh santan?
Mengapa justru makanan yang lembut, cair, dan tampak sederhana itu yang begitu akrab dengan tradisi berbuka puasa di Nusantara?
Jawabannya tidak hanya soal rasa. Ia menyentuh tubuh, psikologi, bahkan cara kita memaknai Ramadan itu sendiri.
Mengapa Bubur Cocok untuk Buka Puasa? Dari Tubuh yang Lapar ke Tubuh yang Dipulihkan
Setelah lebih dari 12 jam berpuasa, tubuh berada dalam kondisi yang berbeda dari hari biasa. Lambung kosong, produksi asam menurun, kadar gula darah sempat turun, dan sistem pencernaan bekerja lebih lambat.
Dalam keadaan seperti itu, tubuh tidak membutuhkan kejutan. Yang dibutuhkan tubuh adalah “pengantar”.
Di situlah, bubur bekerja seperti jembatan.
Teksturnya yang lunak dan kandungan airnya yang tinggi membuatnya mudah dicerna.
Karbohidrat dari beras atau kacang-kacangan telah terurai lewat proses pemasakan yang lama sehingga tubuh tidak perlu bekerja keras untuk memecahnya.
Ia masuk dengan tenang, menghangatkan lambung, sekaligus memulihkan energi secara bertahap.
Bayangkan dua skenario ini. Berbuka langsung dengan gorengan berminyak atau makanan pedas menyengat, dibandingkan dengan satu sendok bubur hangat yang lembut.
Yang pertama mungkin memuaskan hasrat lapar secara instan, tetapi berisiko membuat lambung kaget.
Yang kedua memberi kesempatan bagi tubuh untuk kembali bekerja secara perlahan.
Karena itulah, di banyak tradisi, bubur sering hadir sebelum hidangan berat. Ia bukan tujuan akhir, melainkan pembuka yang bijak.
Filosofi Bubur: Ketika yang Keras Dilembutkan
Namun alasan bubur hadir dalam Ramadan tidak berhenti pada fisiologi. Ia juga mengandung simbolisme yang menarik.
Bubur adalah hasil dari proses melembutkan. Butir-butir beras yang keras, terpisah, dan kaku dimasak lama hingga pecah dan menyatu.
Ia kehilangan bentuk asalnya demi menjadi sesuatu yang baru. Lembut, menyatu, tidak lagi menonjolkan diri.
Bukankah Ramadan juga proses semacam itu?
Puasa adalah latihan melembutkan ego. Menahan amarah, menahan lapar, menahan dorongan-dorongan impulsif.
Yang keras dalam diri manusia dilatih untuk menjadi lunak. Yang individual diarahkan menjadi lebih peka pada sesama.
Dalam bubur, tidak ada hierarki. Beras, santan, gula, kacang, daging, rempah, semua melebur. Tidak ada yang berdiri sendiri. Ia adalah metafora kesetaraan.
Tidak heran jika banyak bubur Ramadan dimasak bersama dan dibagikan gratis di masjid atau surau. Ia bukan makanan eksklusif. Ia makanan kolektif. Sederhana, namun bermakna.

Ragam Bubur dalam Tradisi Ramadan Nusantara
Setelah memahami mengapa bubur begitu cocok, baik secara fisiologi maupun filosofi, kita akan semakin takjub melihat betapa kayanya variasi bubur Ramadan di Nusantara.
1. Bubur Kanji Rumbi: Aceh dan Tradisi Gotong Royong
Di Aceh, Ramadan nyaris tak terpisahkan dari Bubur Kanji Rumbi. Bubur ini dimasak dalam kuali besar, menggunakan beras, santan, aneka rempah, serta daging. Aromanya harum, rasanya gurih dan kompleks.
Yang menarik bukan hanya rasanya, tetapi prosesnya. Ia sering dimasak bersama-sama di masjid, oleh warga dari berbagai latar belakang. Bubur ini kemudian dibagikan menjelang berbuka.
Di sini, bubur menjadi simbol solidaritas sosial. Ia adalah praktik gotong royong yang konkret, bukan sekadar slogan.
2. Bubur Sumsum: Kesederhanaan yang Menenangkan
Di Jawa, Bubur Sumsum menjadi salah satu takjil favorit. Terbuat dari tepung beras dengan kuah gula merah, teksturnya halus seperti sutra.
Warnanya yang putih sering dimaknai sebagai simbol kesucian dan awal yang baru.
Setelah seharian menahan diri, berbuka dengan sesuatu yang lembut dan manis terasa seperti kembali pada titik nol. Hening, bersih, dan tenang.
Ia tidak mewah, tetapi justru di situlah daya tariknya.
3. Bubur Lambuk: Jejak Lintas Budaya
Di wilayah Sumatra dan tradisi Melayu, Bubur Lambuk sangat populer saat Ramadan. Beras dimasak bersama santan, rempah, dan kadang daging cincang.
Bubur ini menunjukkan jejak pengaruh India dan Timur Tengah dalam kuliner Melayu. Ia menjadi bukti bahwa dapur Nusantara selalu terbuka terhadap pertemuan budaya.
Dalam semangkuk bubur, kita bisa membaca sejarah perlintasan rempah, perniagaan, dan peradaban.
4. Bubur Kampiun: Perayaan dalam Satu Mangkuk
Dari Minangkabau, hadir Bubur Kampiun, perpaduan bubur sumsum, ketan hitam, kolak pisang, dan bubur kacang hijau dalam satu wadah.
Jika Ramadan adalah latihan disiplin, maka berbuka adalah momen syukur.
Bubur Kampiun seperti merangkum kegembiraan itu. Beragam rasa, beragam tekstur, menyatu dalam satu mangkuk.
Ia adalah perayaan kecil setelah pengendalian diri.
5. Bubur Pedas: Kaya Sayuran dan Rempah
Dari Sambas, Kalimantan Barat, ada Bubur Pedas. Meski namanya pedas, kekuatannya terletak pada campuran sayuran dan rempah yang kaya.
Dalam konteks Ramadan, bubur ini menunjukkan bahwa “kelembutan” tidak selalu berarti hambar. Ia tetap kaya rasa, tetapi tetap ramah bagi tubuh yang baru selesai berpuasa.
BACA JUGA: Tetap Terhidrasi Selama Berpuasa, Konsumsi Buah-Buahan Ini Saat Sahur dan Berbuka!
Bubur dalam Tafsir Ramadan: Lebih dari Sekadar Makanan
Bubur mungkin tampak sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ia menyimpan lapisan makna.
Bubur adalah makanan yang tidak tergesa-gesa. Ia dimasak perlahan dan disantap perlahan. Ia mengajarkan ritme.
Ramadan pun demikian. Ia bukan sekadar menahan lapar, tetapi memperlambat diri agar kita lebih sadar, lebih peka, lebih manusiawi.
Dari Aceh hingga Jawa, dari kampung hingga kota, bubur menjadi saksi bahwa tradisi kuliner tidak hanya soal resep. Ia adalah cermin nilai-nilai sosial, spiritual, dan sejarah yang terus hidup di meja makan kita.
Dan mungkin, setiap sendok bubur saat berbuka adalah pengingat halus, bahwa yang dilembutkan bukan hanya beras, melainkan juga diri kita sendiri.
