Bukan Hanya Bulan Ibadah, Ramadan Juga Saat yang Tepat untuk Mulai Jualan Makanan Kecil-kecilan, Simak Tips-nya!


Ramadan adalah motor penggerak ekonomi mikro. Bulan suci umat Islam ini membuka peluang usaha yang layak dicoba oleh para ibu rumah tangga, antara lain dengan berjualan takjil. | Foto: Dok. Telusur Dapur

Setiap Ramadan tiba, suasana sore hari berubah. Sekitar pukul empat, jalanan mulai ramai. Orang-orang yang pulang kerja melambatkan kendaraan.

Motor berhenti di tepi jalan. Mobil menepi sebentar. Mata mereka mencari satu hal yang sama: makanan untuk berbuka puasa.

Sadarkah Anda, di situlah sebenarnya peluang itu ada?

BACA JUGA: Mengapa Bubur Jadi Menu Buka Puasa Paling Cocok? Ini Alasan, Filosofi, dan Ragam Bubur Ramadan Nusantara

Ramadan bukan hanya bulan ketika pahala dilipatgandakan, tetapi juga bulan ketika aktivitas konsumsi meningkat secara teratur dan terjadwal.

Selama kurang lebih 30 hari, ada satu momen yang selalu berulang. Menjelang Magrib, orang pasti membeli makanan.

Bagi ibu rumah tangga yang ingin mencoba berjualan, kondisi seperti ini sebenarnya adalah momentum ekonomi yang sangat jelas, bahkan bisa dibilang paling mudah diprediksi.

Pasarnya Sudah Pasti, Waktunya Jelas

Dalam usaha apa pun, pertanyaan paling mendasar adalah: apakah ada pembelinya?

Di bulan-bulan biasa, orang belum tentu membeli jajanan setiap sore. Tetapi, di bulan Ramadan, semua orang berbuka puasa.

Untuk masyarakat Indonsia yang mayoritas Muslim, hampir semua orang membutuhkan sesuatu untuk berbuka, entah itu gorengan, kolak, es buah, atau makanan ringan lainnya.

Artinya, permintaan itu sudah ada, bahkan sebelum kita mulai berjualan.

Yang lebih menarik lagi, waktunya juga sangat jelas. Puncak keramaian biasanya terjadi antara pukul 16.00 sampai 18.00. Tidak perlu membuka lapak dari pagi hingga malam. Cukup fokus pada “dua jam emas” tersebut.

Dalam dunia usaha kecil, situasi seperti ini jarang terjadi. Pasar ada, waktunya pasti, dan polanya berulang selama satu bulan penuh.

Peluang ini sangat cocok bagi ibu rumah tangga yang ingin mencoba berdagang makanan namun juga tetap bisa menjalankan tanggung jawab di rumah.

Ramadan dan Perputaran Uang yang Cepat

Jualan takjil termasuk usaha dengan perputaran uang harian. Produksi dilakukan pagi hingga siang pada hari itu juga. Dagangan dijual sebelum Magrib, dan uang langsung diterima saat itu juga.

Tidak perlu menunggu pelanggan membayar belakangan. Tidak perlu sistem cicilan. Tidak perlu stok menumpuk berhari-hari. Modal berputar dengan cepat.

Bagi keluarga dengan satu sumber penghasilan, tambahan uang harian seperti ini sangat berarti. Bisa untuk menambah belanja dapur, membayar kebutuhan sekolah anak, atau disisihkan untuk persiapan Lebaran.

Ramadan memberi kesempatan untuk mengumpulkan tambahan penghasilan dalam waktu yang relatif singkat.

Jika keuntungan bersih per hari Rp100.000 saja, dalam 30 hari jumlahnya sudah cukup signifikan untuk skala rumah tangga.

Mengapa Ibu Rumah Tangga Justru Paling Siap Memulai?

Banyak ibu rumah tangga sebenarnya sudah memiliki modal utama, yakni kemampuan memasak.

Setiap hari memasak untuk keluarga. Setiap hari mengatur belanja. Setiap hari mengelola dapur. Itu semua adalah keterampilan usaha. Hanya saja, selama ini digunakan untuk kebutuhan di rumah sendiri.

Ramadan memberi ruang untuk mengubah keterampilan tersebut menjadi sumber penghasilan tambahan.

Tidak perlu langsung besar. Tidak perlu menyewa tempat mahal. Banyak yang memulai dari depan rumah, dari meja sederhana, atau bahkan melalui pesanan di grup WhatsApp warga. Yang penting adalah memulai.

Dan karena Ramadan hanya berlangsung sekitar satu bulan, usaha ini bisa dicoba tanpa rasa takut terikat jangka panjang. Jika cocok, bisa diteruskan tahun depan. Jika belum maksimal, bisa dievaluasi tanpa beban.

Lontomg isi, risol, pisang cokelat, bihun dan mi bakso siap santap, aneka gorengan, dan aneka penganan lainnya selalu laris manis setiap sore menjelang berbuka puasa di sepanjang bulan Ramadan. | Foto: Dok. Telusur Dapur
Apa yang Bisa Dijual?

Yang terpenting bukanlah menjual sesuatu yang mewah, tetapi menjual sesuatu yang pasti dicari.

Gorengan hampir selalu laris karena murah dan mengenyangkan. Kolak pisang disukai karena manis dan cocok sebagai pembuka puasa.

Es buah atau es campur menyegarkan setelah seharian menahan dahaga. Risol, pastel, dan aneka kue basah juga memiliki pasar tersendiri.

Pilih menu yang:

  • Bahannya mudah didapat.
  • Tidak terlalu rumit pembuatannya.
  • Tidak mudah basi dalam waktu singkat.

Lebih baik memulai dengan satu atau dua jenis menu, tetapi kualitasnya terjaga.

Memulai dengan Cara yang Aman

Langkah paling bijak adalah mulai dari jumlah kecil. Misalnya, 50 potong gorengan atau 20 cup es buah di hari pertama. Jika habis sebelum Magrib, itu pertanda baik. Besok bisa ditambah sedikit.

Dengan cara ini, risiko kerugian bisa ditekan. Tidak perlu memaksakan produksi besar di awal.

Hal lain yang sangat penting adalah kebersihan. Makanan yang tertata rapi, tertutup, dan dijual dengan sikap ramah akan lebih dipercaya pembeli. Terlebih lagi di bulan Ramadan, orang cenderung memilih penjual yang terlihat bersih dan jujur.

Jangan Hanya Menjadi Pembeli

Setiap sore di bulan Ramadan selalu kita jumpai dua peran: pembeli dan penjual. Uang berpindah tangan setiap hari.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin selalu berada di sisi pembeli, atau sesekali mencoba berada di sisi penjual?

BACA JUGA: Resep Ayam Masak Kecap, Menu Ideal Berbuka Puasa Nan Menggoda yang Super Praktis Membuatnya!

Ramadan adalah momentum yang unik. Pasarnya jelas. Waktunya jelas. Durasi usahanya jelas. Risiko bisa diatur. Modal bisa disesuaikan.

Bagi ibu rumah tangga yang selama ini ingin membantu ekonomi keluarga tetapi ragu memulai, mungkin Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk mencoba.

Mulai dari dapur sendiri. Mulai dari yang sederhana. Mulai dari jumlah kecil.

Karena di bulan Ramadan, bukan hanya ibadah dan pahala yang bisa dilipatgandakan. Ikhtiar dan peluang rezeki pun terbuka lebih lebar. Siap mencoba?