
Beberapa tahun lalu, segelas es kopi susu gula aren bukan sekadar minuman. Ia adalah simbol gaya hidup.
Orang rela antre, memotret gelas plastik berlogo minimalis, lalu mengunggahnya ke media sosial.
Rasanya seperti ada satu fase ketika semua orang, setidaknya sekali, pernah memegang gelas berisi kopi susu dengan warna gradasi cokelat itu.
BACA JUGA: Bikin Sendiri Es Kopi Susu Gula Aren ala Kedai Kopi Kekinian, Ini Resepnya!
Hari ini, suasananya agak berbeda. Tidak ada lagi antrean panjang yang viral. Tidak ada lagi sensasi “harus coba.”
Tapi anehnya, minuman ini justru semakin mudah ditemukan di mana-mana. Dari coffee shop besar sampai kedai kopi kecil pinggir jalan.
Lalu pertanyaannya, apakah es kopi susu gula aren masih tren, atau justru sudah naik kelas menjadi klasik baru?
Dari Ledakan Tren ke Minuman Sehari-hari
Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari gelombang kopi susu modern yang menyapu kota-kota besar Indonesia. Sejumlah brand menjadi pionir yang memperkenalkan formula sederhana ini. Kopi + susu + gula aren.
Sederhana, tapi tepat sasaran.
Rasanya tidak terlalu pahit, tidak terlalu kompleks. Manisnya terasa “lokal,” berkat gula aren yang membawa sentuhan karamel khas Nusantara.
Harganya pun relatif terjangkau, membuatnya tidak eksklusif. Ini bukan kopi untuk kalangan tertentu. Ini kopi untuk semua orang.
Dan di situlah letak kekuatannya.
Mengapa Begitu Cepat Diterima?
Jika kita jujur, es kopi susu gula aren bukan minuman yang menantang lidah. Justru sebaliknya, ia ramah.
Ia tidak menuntut Anda memahami origin biji kopi atau metode seduh. Ia tidak meminta Anda membedakan acidity atau body. Ia hanya menawarkan sesuatu yang familiar. Manis, creamy, dingin, dan menyegarkan.
Bahkan bagi orang yang tidak benar-benar menyukai kopi, minuman ini tetap bisa dinikmati.
Ditambah lagi, tampilannya pun “cantik.” Layer gula aren di bawah, susu di tengah, dan kopi di atas menciptakan gradasi warna yang mudah menarik perhatian. Di era visual seperti sekarang, ini bukan sesuatu yang sepele.
Ketika Tren Berubah Menjadi Kebiasaan
Biasanya, tren punya siklus. Muncul, viral, lalu menghilang. Tapi es kopi susu gula aren tampaknya memilih jalur lain.
Ia tidak hilang. Ia justru menetap.
Hari ini, minuman ini tidak lagi terasa “spesial.” Justru karena ia sudah terlalu biasa. Kita tidak lagi membicarakannya dengan heboh, karena kita sudah terbiasa dengannya.
Ia mulai mengambil posisi yang dulu ditempati oleh minuman-minuman sederhana seperti teh manis atau kopi tubruk. Selalu ada, selalu tersedia, dan selalu relevan.
Bahkan, variasinya semakin luas. Ada yang memakai susu oat, ada yang mengurangi gula, ada pula yang menambahkan rasa pandan atau vanila. Tapi intinya tetap sama, kopi susu dengan sentuhan gula aren.
Masih Tren, Tapi Tidak Lagi Hype
Kalau dilihat dari sisi bisnis, es kopi susu gula aren masih sangat hidup.
Menu ini hampir selalu menjadi best seller di banyak kedai. Brand baru masih bermunculan, dan hampir semuanya memasukkan varian ini dalam daftar menu. Artinya, secara komersial, ia belum kehilangan daya tarik.
Namun, satu hal yang berubah. Ia tidak lagi heboh.
Tidak ada lagi rasa penasaran. Tidak ada lagi dorongan untuk mencoba karena FOMO (fear of missing out). Orang membeli bukan karena tren, tapi karena sudah tahu rasanya, dan mereka menyukainya.

Menuju Status “Klasik Baru”
Di titik ini, kita mulai melihat tanda-tanda menarik.
Sebuah makanan atau minuman bisa disebut “klasik” ketika:
- Ia diterima lintas generasi.
- Tidak lagi bergantung pada popularitas sesaat.
- Selalu hadir dalam menu, tanpa perlu dipromosikan berlebihan.
Dan es kopi susu gula aren tampaknya memenuhi semua itu.
Ia bukan lagi sekadar produk viral. Ia sudah menjadi standar. Bahkan, bagi banyak orang, inilah racikan default ketika mendengar kata kopi susu.
Sisi Lain yang Mulai Dipertanyakan
Tentu saja, tidak semuanya sempurna.
Beberapa orang mulai mengeluhkan kadar gula yang tinggi. Ada pula yang berpendapat, rasa antar-brand terlalu mirip, seolah kehilangan karakter.
Di sisi lain, popularitas minuman ini juga sempat membuat eksplorasi kopi terasa stagnan, karena banyak pelaku usaha memilih bermain aman.
Namun, kritik-kritik ini justru menandakan satu hal. Minuman ini sudah cukup lama bertahan untuk mulai dievaluasi.
Dan itu ciri lain dari sesuatu yang sedang menuju status klasik.
Akan Bertahan atau Tergeser?
Apakah es kopi susu gula aren akan bertahan dalam jangka panjang?
Kemungkinan besar, ya! Meski mungkin dalam bentuk yang terus berevolusi. Versi rendah gula, susu nabati, atau bahkan interpretasi baru yang lebih kompleks bisa saja muncul.
Tren boleh datang dan pergi, tapi kebiasaan cenderung menetap.
Dan saat sebuah minuman sudah menjadi bagian dari kebiasaan, ia tidak lagi sekadar tren.
Lebih dari Sekadar Minuman
Pada akhirnya, es kopi susu gula aren adalah cerita tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menemukan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mungkin tidak lagi membuat orang antre panjang. Ia juga tidak lagi menjadi bahan pembicaraan hangat. Tapi justru di situlah kekuatannya. Ia hadir tanpa perlu diperhatikan.
Jadi, apakah ini masih tren?
Mungkin tidak sepenuhnya.
Tapi justru karena itu, ia mungkin sudah menjadi sesuatu yang lebih penting. Sebuah klasik baru dalam lanskap kuliner urban Indonesia.
