Sukun, dari Gorengan Kakilima Kini Jadi Kandidat “Future Food” Dunia dan Solusi Krisis Pangan


Sukun goreng disajikan di atas piring dengan latar belakang buah sukun yang masih utuh.
Selama ini, sukun biasanya hanya diolah jadi gorengan yang tak jarang dijual murah di kakilima. Padahal, potensi sukun sangat besar untuk bisa diolah jadi berbagai macam produk turunan. Dikombinasikan dengan berbagai kelebihan lainnya, sukun kini digadang-gadang sebagai sumber pangan masa depan untuk menjawab krisis pangan dan tantangan perubahan iklim. | Ilustrasi: Telusur Dapur/Citra AI

Di lapak-lapak pedagang gorengan kakilima, sukun tampil begitu sederhana. Dipotong, digoreng, dan dijual dengan harga merakyat. Ia penganan familiar, tapi jarang dianggap penting.

Namun belakangan ini, siapa sangka, buah ini mulai sering disebut dalam diskusi global tentang pangan. Muncul pertanyaan yang agak mengejutkan, “Benarkah sukun bisa menjadi makanan masa depan?”

Jawabannya memang tidak sederhana. Tapi satu hal jelas, sukun sedang dipertimbangkan ulang. Kali ini dengan kacamata yang berbeda.

BACA JUGA: Karangan, Makanan Tradisional Khas Bantul dari Olahan Rumput Laut yang Kian Langka, Seperti Apa Rasanya?

Mengenal Sukun: Tanaman Lama, Peran Baru

Sukun (Artocarpus altilis) adalah tanaman tropis yang sudah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Indonesia.

Pohonnya bisa tumbuh tinggi dan rindang. Sekali ditanam, pohon sukun bisa berbuah selama bertahun-tahun.

Buahnya besar, berdaging tebal, dan kaya pati. Dalam kondisi tua tetapi belum matang, teksturnya cenderung kering dan padat. Itulah yang biasanya dikupas dan digoreng.

Selama ini, pemanfaatan sukun cenderung sederhana:

  • Digoreng sebagai camilan
  • Direbus atau dikukus
  • Dijadikan kolak

Artinya, meski melimpah, penggunaannya masih terbatas. Sukun belum benar-benar naik kelas sebagai bahan pangan utama.

Mengapa Sukun Kini Disebut “Future Food”?

Istilah “future food” bukan sekadar tren. Ada dasar ilmiah yang membuat sukun mulai dilirik.

Salah satu penelitian dari National Tropical Botanical Garden menunjukkan bahwa sukun memiliki profil nutrisi yang menjanjikan.

Sukun tinggi karbohidrat kompleks, mengandung serat, dan secara alami bebas gluten. Ini membuat sukun berpotensi menjadi alternatif pengganti gandum, terutama bagi wilayah tropis yang tidak cocok ditanami gandum.

Selain itu, keunggulan sukun tidak hanya ada di kandungan gizinya. Berikut ini beberapa keunggulan sukun lainnya:

1. Produktivitas tinggi

Satu pohon sukun bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan buah dalam satu musim. Ini membuatnya efisien sebagai sumber pangan.

2. Tanaman tahunan

Berbeda dengan padi atau jagung yang harus ditanam ulang, sukun cukup ditanam sekali untuk bisa panen bertahun-tahun.

3. Tahan perubahan iklim

Sukun dikenal cukup adaptif terhadap kondisi tropis, termasuk berbagai variasi cuaca. Dalam konteks krisis iklim, ini adalah nilai penting.

4. Mendukung kemandirian pangan

Sukun bisa ditanam di pekarangan dan cocok untuk skala rumah tangga hingga komunitas.

Dengan kombinasi keunggulan inilah, sukun mulai diposisikan sebagai bagian dari solusi diversifikasi pangan global.

Kelebihan Sukun sebagai Sumber Pangan

Jika diringkas, inilah kekuatan utama sukun:

  • Sumber karbohidrat alternatif pengganti nasi atau kentang
  • Bebas gluten, cocok untuk kebutuhan diet tertentu
  • Mudah tumbuh di Indonesia tanpa teknologi rumit
  • Bisa dipanen berulang tanpa replanting
  • Potensial sebagai bahan baku industri pangan lokal

Dengan kata lain, sukun bukan sekadar buah, tapi bisa diperlakukan sebagai komoditas pangan strategis.

Tantangan dan Kelemahan Sukun

Meski menjanjikan, sukun juga punya keterbatasan. Ini penting untuk dilihat secara jujur.

1. Musiman

Sukun tidak berbuah sepanjang tahun, sehingga pasokannya bisa saja tidak stabil.

2. Cepat rusak

Buah segar memiliki umur simpan pendek. Dalam hitungan hari, kualitasnya bisa menurun drastis.

3. Citra kurang prestisius

Di banyak tempat, sukun masih dianggap makanan “kelas dua”, bukan pangan utama.

4. Minim inovasi pengolahan

Selama ini, sukun hanya identik dengan gorengan saja. Padahal potensinya jauh lebih luas.

Buah sukun yang masih menggantung di pohon sukun.
Sekali tanam, pohon sukun bisa menghasilkan buah selama bertahun-tahun tanpa perlu penanaman ulang. Pohonnya tahan berbagai macam kondisi cuaca dan iklim sehingga menjadikan sukun sebagai sumber pangan penting di tengah tantangan krisis pangan dan perubahan iklim. | Foto: Telusur Dapur/Sigit Djatmiko
Solusi: Dari Buah Segar ke Produk Tahan Lama

Kelemahan sukun sebenarnya bukan jalan buntu, namun justru membuka ruang inovasi.

1. Pengolahan jadi tepung

Ini kunci paling penting. Tepung sukun bisa disimpan lama dan digunakan kapan saja, sekaligus membuka peluang produk turunan.

2. Teknik pengawetan

Pengeringan, pembekuan, atau fermentasi bisa memperpanjang umur simpan.

3. Perubahan citra

Dari “gorengan murah” menjadi “bahan pangan sehat dan modern”. Ini soal edukasi dan branding.

4. Diversifikasi produk

Semakin banyak variasi olahan, semakin besar peluang diterima pasar.

5. Budidaya terencana

Penanaman bertahap bisa membantu menjaga kontinuitas panen.

Sukun Bisa Diolah Jadi Apa Saja?

Di sinilah sukun mulai terasa menarik secara praktis karena buah ini fleksibel di dapur.

1. Olahan klasik
  • Sukun goreng (yang paling populer)
  • Sukun kukus atau rebus
  • Kolak sukun
2. Olahan berbasis tepung
  • Roti
  • Kue dan cake
  • Mie
  • Pancake
3. Olahan modern
  • Keripik sukun
  • Puree sukun (mirip mashed potato)
  • Nugget atau patty berbasis sukun
4. Olahan kreatif
  • Brownies sukun
  • Donat sukun
  • Cookies gluten-free
  • Campuran bahan minuman atau dessert modern

Dari sini terlihat jelas, masalahnya bukan pada bahan, tapi pada cara kita mengolah dan memposisikan sukun.

BACA JUGA: Oli Jepret, Jajanan Khas Bogor yang Kian Langka, Menyimpan Kisah Unik dari Namanya

Masa Depan yang Sudah Lama Ada

Sukun bukan tanaman baru. Ia sudah lama tumbuh di lahan-lahan desa, di pekarangan, bahkan buahnya sering dibiarkan jatuh begitu saja tanpa dimanfaatkan.

Nah, yang berubah hari ini bukan pohonnya, melainkan cara kita memandangnya.

Di tengah kekhawatiran krisis pangan dan perubahan iklim, dunia mulai mencari alternatif. Ironisnya, salah satu jawabannya ternyata sudah lama ada di sekitar kita. Diam, sederhana, dan selama ini diremehkan. Itulah sukun, yang tumbuh diam-diam di kebun belakang rumah.