
Di Nusantara, kata “rempah” hampir selalu membawa kita ke dapur. Bunyi ulekan, harum tumisan, dan jejak rasa yang menempel di lidah.
Kita mengenal lada, kunyit, jahe, atau jintan sebagai bagian dari bahasa sehari-hari masakan.
Tapi ada satu tanaman dari dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah yang sebenarnya memenuhi syarat sebagai rempah. Ia aromatik, rasanya cenderung pedas. Namun, ia tak pernah benar-benar menemukan tempatnya di panci dan wajan masakan.
Namanya purwaceng atau purwoceng. Sebutan ilmiahnya Pimpinella pruatjan.
Purwaceng dikenal luas sebagai jamu penghangat tubuh, dan bahkan lebih populer lagi sebagai penambah vitalitas sehingga kadang purwaceng juga disebut “viagra Jawa”.
Tapi, kalau kita jujur pada sifat-sifat alaminya, muncul satu pertanyaan yang menggelitik: mengapa tanaman seperti ini tidak pernah menjadi bumbu masakan?
Apa Itu Rempah? Sebuah Definisi yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Secara sederhana, rempah adalah bagian tanaman (mulai dari biji, akar, kulit, atau bunga) yang digunakan untuk memberi rasa dan aroma pada makanan.
Namun dalam sejarahnya, rempah tidak pernah sesederhana itu. Ia adalah komoditas perdagangan, pengawet alami, bahkan obat.
Artinya, sejak awal, rempah sebenarnya berdiri di persimpangan antara dapur dan pengobatan.
Di titik inilah batas antara rempah dan herbal menjadi kabur.
Jahe bisa jadi minuman hangat sekaligus bumbu tumis. Kunyit bisa mewarnai nasi sekaligus meredakan radang. Kencur bisa masuk ke dalam sambal maupun jamu.
Lalu, di mana posisi purwaceng?
Dalam Pengertian Tertentu, Purwaceng Adalah Rempah
Kalau kita lepaskan dulu kebiasaan budaya dan hanya melihat purwaceng sebagai “bahan mentah”, sebenarnya ia punya banyak ciri khas rempah.
Pertama, dari sisi kekerabatan botani. Purwaceng berasal dari keluarga Apiaceae, satu rumpun dengan tanaman seperti adas dan jintan, yang jelas-jelas kita kenal sebagai rempah.
Kedua, dari profil rasa. Akar dan daunnya memiliki sensasi pedas-getir dengan aroma yang cukup tajam. Ini bukan rasa netral. Ini rasa yang “bekerja”, persis seperti rempah-rempah lain yang memberi karakter pada masakan.
Ketiga, dari kandungan senyawa. Purwaceng mengandung komponen seperti alkaloid, saponin, dan senyawa aromatik yang secara fungsional mirip dengan banyak rempah yang kita gunakan sehari-hari.
Dengan kata lain, jika kita hanya melihat dari potensi biologis dan sensori, purwaceng sebenarnya layak disebut rempah.
Lalu Mengapa Ia Gagal Masuk Dapur?
Di sinilah cerita berubah. Karena menjadi rempah bukan hanya soal rasa atau kandungan, tetapi juga soal kecocokan dan kebiasaan.
Masalah pertama adalah rasa itu sendiri. Purwaceng memang pedas dan aromatik, tetapi juga getir dan agak pahit. Ia tidak memberi keseimbangan rasa seperti jahe atau kunyit. Dalam masakan, rasa seperti ini sulit “dijinakkan”. Ia cenderung mendominasi tanpa memberi harmoni.
Masalah kedua adalah persepsi. Sejak lama, purwaceng dikenal sebagai tanaman obat, terutama sebagai penambah vitalitas. Identitas ini begitu kuat sehingga orang tidak pernah benar-benar mencoba membawanya ke dapur. Ia sudah telanjur ditempatkan di rak jamu, bukan di bumbu dapur.
Masalah ketiga adalah ketersediaan. Purwaceng tumbuh di dataran tinggi dengan kondisi tertentu dan tidak mudah dibudidayakan secara massal. Rempah yang hidup di dapur biasanya adalah bahan yang relatif mudah didapat dan cukup murah untuk digunakan sehari-hari.
Dan yang paling menentukan, tidak ada tradisi yang mewariskannya sebagai bumbu. Rempah hidup bukan hanya karena rasa, tetapi karena resep. Purwaceng tidak pernah punya warisan itu.

Berjaya di Ranah Jamu: Ketika “Rasa” Digantikan oleh “Daya”
Jika dapur tidak menerimanya, jamu justru memeluk purwaceng dengan erat.
Purwaceng menemukan tempatnya sebagai seduhan teh hangat, serbuk instan, hingga campuran kopi yang populer di kawasan pegunungan.
Di sini, rasa bukan lagi tujuan utama, bahkan sering kali dikompromikan. Yang dicari adalah efeknya. Menghangatkan tubuh, menyegarkan, memberi sensasi vitalitas.
Di dunia jamu, nilai sebuah bahan tidak diukur dari kelezatan, tetapi dari khasiat.
Dan di sinilah purwaceng unggul. Apa yang menjadi kelemahannya di dapur, rasa yang tajam dan getir itu, justru menjadi penanda kekuatan dalam ranah pengobatan tradisional.
Rempah dan Jamu: Dua Dunia yang Saling Bersinggungan
Sebenarnya, banyak bahan yang hidup di dua dunia ini sekaligus. Jahe, kunyit, dan kencur adalah contoh paling jelas. Mereka mengisi panci masakan sekaligus gelas jamu.
Namun purwaceng tidak pernah menyeberang.
Mengapa? Mungkin karena ia tidak cukup “ramah” untuk lidah, atau mungkin karena masyarakat sudah lebih dulu memberinya peran yang sangat spesifik.
Dalam banyak hal, kategori seperti “rempah” atau “jamu” bukan hanya soal sifat tanaman, tetapi juga hasil dari kebiasaan kolektif.
Nasib yang Ditentukan oleh Lidah dan Keyakinan
Purwaceng adalah paradoks kecil dalam dunia kuliner. Ia memiliki tubuh rempah yang aromatik, pedas, dan kaya senyawa aktif, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan menjadi bagian dari rasa.
Ia memilih, atau mungkin dipilihkan, untuk berjalan di jalur lain. Jalur khasiat, bukan jalur kenikmatan cita rasa. Di situlah letak keunikan purwaceng.
